Sabtu, 24 Januari 2015

kumpulan cerpen

<blockquote>AKU</blockquote>
Aku,aku hanya bisa berdiam diri duduk di kursi roda sementara orang tua ku membanting tulang mencari sesuap nasi ,cacat yang aku derita membuat ku tak bisa melakukan apa-apa dan menjadikanku orang yang tidak berguna yang hanya menjadi beban bagi semua orang di sekitarku. kejadian ini terjadi  tiga tahun lalu, saat itu, hari dimana aku ingin mendaftar   ke sebuah sekolah menengah atas. Ketika itu juga, saat aku berjalan tiba-tiba dari depan melaju sebuah sepeda motor bagaikan kilat yang datang menyambar,dan membuatku tak sadarkan diri selama 10 hari, dan ketika aku terbangun kesedihan pun tak dapat kubendung lagi ketika mengetahui  kakiku yang tak dapat ku gerakkan lagi alias lumpuh, saat itu semua harapan hidupku telah hancur di renggut oleh orang yang telah menabrakku,orang tak bertanggung jawab dan orang yang kini sangatku benci . Aku sebagai harapan orang tua ku yang selalu di banggakan dan di percaya akan mengubah kehidupan orang tua ku untuk menjadi lebih baik, justru menjadi benalu di keluargaku. semenjak kejadian itu, aku selalu menangis dalam kegelapan merenungi nasib malangku ini, melihat kedua orang tuaku yang selau  sedih dan mengkhawatirkan keadaanku, membuatku semakin jatuh kedalam keterpurukan, dan hanya bisa berdiam diri. sampai detik ini pun aku masih tetap dalam ketepurukan.
Pada suatu hari, ketika aku duduk seperti biasa di depan jendela kamarku,akupun melihat ada dua kakak beradik, yang sedang memulung kaleng dan plastik bekas di dekat rumah ku. hati ku pun tersentuh melihat  sang adik yang sedang memanduh kakaknya yang buta, untuk mencari barang-barang bekas agar dapat menghidupi diri mereka sendiri. Namun dalam hati kecil ku bertanya-tanya”sebenarnya kemana orang tua meraka?,dan kenapa mereka di biarkan menjadi pemulung padahal si kakak cacat ?” karena rasa penasaranku,akupun memanggil mereka dan bertanya kepada mereka.
“De...de... bisa kesini sebentar,ada yang kakak mau tanya!’
“ia kak,ada apa yah....”jawabnya sambil menghampiriku
“kakak mau nanya,sebenarnya orang tua kalian kemana, dan mengapa dia mengizinkan kalian menjadi pemulung padahal kakakmu ini cacat dan kamu masih terlalu kecil? tanyaku dengan penuh penasaran.
“sebenarnya...orang tua kami telah meninggal kak,mereka meninggal satu tahun lalu dalam sebuah kecelakaan bis,dan mau tidak mau kami harus bekerja untuk dapat bertahan hidup”jawab anak itu sambil senyum tanpa sedikit raut wajah yang mengatakan bahwa ia terpuruk dalam masalah itu.
Mendengar cerita itu, hatiku merasa kasihan kepada mereka namun ketika aku melihat ketegaran dan usaha yang mereka lakukan untuk bertahan hidup dalam penderitaan, aku merasa bahwa diriku lebih menyedihkan dari pada mereka, mereka  dapat segera bangkit dan tersenyum walaupun masalah yang begitu besar sedang menerpa mereka, sedangkan aku masih tak dapat bangkit dari keterpurukanku padahal aku masih mempunyai kedua orang tua yang menyayangiku dan selalu berada di sisiku ,anak itu menyadarkanku bahwa aku bukan satu-satunya orang yang menderita tapi didunia ini masih banyak yang lebih menderita dari pada aku , aku tersadar bahwa selama ini aku tidak pernah mencoba untuk bangkit dari keterpurukanku, dan mulai saat itu aku berjanji bahwa mulai hari ini aku akan bangkit dan tidak akan menyia-nyiakan kehidupanku lagi. Mulai hari itu juga, aku mencoba untuk menata kembali hidupku dan menjalani hidup ini dengan ceria. Aku pun mencoba melakukan hal-hal berguna dalam hidup ku, mulai dari blajar berjalan menggunakan tongkat agar aku dapat melakukan aktivitas sehari-hari ku tanpa bantuan dari kedua orang tua ku, setelah beberapa bulan berlatih berjalan menggunakan tongkat akhirnya aku berhasil dan dapat melakukan aktivitas sehari hari ku sendiri. Pada saat itu hatiku sangat senang,dan berpikir bahwa dulu aku sangatlah bodoh, andaikan saja dulu aku tidak berputus asa dan mencoba bangkit lebih awal pasti sudah lama aku dapat melakukan aktivitas tanpa menjadi beban bagi orang tuaku.
Pada suatu malam,  ketika itu aku membulatkan tekad untuk membicarakan pemikiranku pada orang tuaku.
“ayah,ibu... kalian sudah melihat perkembanganku, sekarang aku sudah bisa berjalan lagi meskipun memakai tongkat, dan sekarang aku ingin meminta izin agar aku bisa berkerja, aku ingin melamar di sebuah salon kecantikan. Ibu, ayah mohon izinkan aku”
“nak...apa kamu yakin dengan keputusanmu?, dan ibu tahu kau ingin bangkit dan lebih maju, tapi dengan keadaanmu yang seperti ini...”
“ibu aku sudah yakin dengan keputusanku, ibukan tahu dari dulu aku memang tertarik menjadi penata rias. Ibu..ayah.. aku tahu kalian khawatir jika aku akan gagal dan nantinya kecewa. tetapi, kalian tenanglah karna  aku akan berusaha keras,dan pantang menyerah kan yang cacat bukan tanganku” jawabku sambil tersenyum seperti anak yang pernah kutemui dulu, anak yang telah menyadarkanku dari keterpurukanku.
Walaupun pada awalnya orang tuaku tidak menyetujui keputusanku, tapi akhirnya setelah kuberi penjelasan orang tua ku pun menyetujui keputusan ku,mungkin karna melihat ku yang begitu bersungguh-sungguh. Memang ini pertama kalinya aku mempunyai tekad yang begitu kuat dan harapan hidup semenjak kecelakaan itu,aku merasa sangat yakin bahwa menjadi penata rias adalah takdirku yang bisa mengubah hidup ku dan dapat membantu orang tuaku. Pada hari pertama aku melamar pekerjaan di beberapa tempat, namun tidak ada satu pun yang menerima ku dengan alasan yang sama yaitu karna aku tak mempunyai pengalaman dan mungkin karna kaki yang lumpuh, tetapi aku terus menyemangati diriku dan mencoba lagi keesokan harinya namun hasilnya sama saja, hingga beberapa hari aku mencoba dan terus mencoba tapi tak ada hasilnya sehingga aku pun mulai berputus asa dan berpikir bahwa yang aku lakukan ini percuma karna tak akan mungkin ada orang bodoh yang mau menerimaku dengan keadaan seperti ini selain itu aku hanya bermodalkan tekad dan rasa ketertarikanku pada dunia tata rias saja.
Walaupun aku tidak lagi mencoba melamar pekerjaan tetapi minatku menjadi penata rias profesional tidak berubah, aku menyadari bahwa menjadi seorang penata rias harus mempunyai keterampilan bukan hanya ketertarikan. Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti kursus penata rias sebelum aku menjadi penata rias profesional. Hari demi hari pun ku lalui di tempat kursus, mencoba tetap bertahan dan selalu bersabar walaupun terkadang aku merasa tak sanggup mendengar ejekan dan ocehan dari teman-teman kursus yang memandangku sebelah mata. Aku dapat tetap bertahan semua demi membahagiakan orang tuaku dan untuk mewujudkan impianku karna ku tahu semua butuh perjuangan. Setelah  mengikuti kursus beberapa minggu aku mulai mendapat kan seorang teman yang sanggat mengerti aku dan selalu membelaku jika aku di ejek, Dan memiliki beberapa hobi yang sama dengan ku, yaitu kami suka menulis  di saat waktu renggang.  dia bernama reva. ia sangat baik dan periang ,setiap hari aku selalu bersamanya karna memang Cuma dia satu-satunya orang yang mau berteman denganku. Suatu hari ketika kami pulang bersama dari tempat kursus aku menanyakan alasan dia mengikuti kursus kecantikan,dan iapun berkata” aku mengikuti kursus ini karna keinginan orangtua ku yang ingin sekali melihatku menjadi penata rias profesional, tapi sebenarnya aku lebih menyukai menjadi seorang penulis novel,dan bagaimana dengan mu,apakah kamu memang menyukai tata rias, kamukan juga suka menulis sepertiku?” aku pun  mengatakan bahwa aku memang  suka menulis cerita tapi itu hanya iseng aja sebagai pengisi waktu senggang sedangkan tujuanku sebenarnya adalah menjadi seorang penata rias. Setelah itu iya pun bersikeras ingin melihat cerita-cerita yang aku buat, dan tak di sangka ia sangat tertarik dengan ceritaku dan mengajakku mengikuti kompetisi menulis cerpen yang akan  diadakan dua bulan lagi karena ia pikir aku lebih berbakat menjadi seorang penulis, namun aku masih belum kepikiran menjadi penulis.
Tidak lama kemudian, saya dan reva mengikuti ujian di tempat kursus yang menentukan layak tidak seseorang menjadi penata rias, dan yang lulus akan dipromosikan untuk memperoleh pekerjaan dan  mendapat pelatihan selama sebulan di luar kota, saat itu aku sangat semangat dan mengerahkan semua kemampuanku agar aku dapat lulus dan segera mendapat pekerjaan yang kuimpi-impikan, namun tidak bagi reva ia terlihat tidak semangat dan tidak bersungguh-sungguh, mungkin karena ia memang tidak berharap akan lulus karna apabila dia lulus dia tidak akan bisa mengikuti kompetisi menulis cerpen yang sebentar lagi akan di adakan. Pada hari pengumuman ,saya pun sangat berharap agar dapat lulus namun hasil pengumuman berkata lain aku dinyatakan tidak lulus, melihat namaku berada diurutan paling bawah membuat hatiku sangat sedih dan kecewa tetapi ketika aku melihat urutan pertama adalah temanku sendiri yaitu reva aku lebih kecewa dan sedih, ternyata melihat seorang teman sukses jauh dari kita lebih menyakitkan dari pada kegagalan. Aku pun tidak mengerti mengapa melihatnya lulus dari ujian ini membuatku marah padanya, aku merasa bahwa ia yang terpaksa mengikuti kursus karna orangtuanya dan tak begitu menginginkan menjadi penata rias tak pantas untuk lulus, selain itu aku sangat heran kenapa ia bisa lolos padahal ia tak pernah besungguh-sungguh, apa karna ia memang punya bakat alami?. Memikirkan semua itu hanya membuat ku lebih kacau dan iri kepadanya, sehinga dalam beberapa hari pun aku menjauh darinya, walaupun ia terus mencoba menjelaskan padaku walau sebenarnya gak ada yang perlu dijelaskan. Dalam beberapa hari itu pun aku termenung dan menyadari bahwa aku tidak seharusnya membencinya karna kemenangannya karna aku tau itu bukan keinginannya,itu terjadi karena memang bakat alami yang ia punyai hanya saja ia tak menyadarinya dan seharusnya sebagai teman aku harus bahagia melihatnya sukses.
Sehari sebelum ia berangkat untuk pelatihan keluar kota, aku pergi mengunjunginya dan meminta maaf tentang semuanya kepadanya.
“reva sebenarnya kedatanganku kesini ingin minta maaf kepadamu,aku sadar bahwa aku tidak seharusnya membencimu”
“seharusnya akulah yang meminta maaf, sugguh... semua ini bukan keinginanku,aku juga heran mengapa aku bisa lulus. Aku bersedia kok... kalau kau mau menggantikanku” kata reva dengan serius
“kamu tidak perlu melakukan itu, aku sadar bahwa aku memang gak pantas  dan yang pantas itu adalah kamu, rev...kamu itu berbakat menjadi penata rias dan aku ingin kau lebih serius menekuni dunia penata rias,bukan karna paksaan tapi karna dirimu sendiri”
‘tapi... kenapa kamu jadi begini, apa kamu berputus asa menjadi seorang penata rias?, dengarlah kawan ku aku gak mau hanya karna masalah ini hubungan persahabatan kita rusak”jawab reva dengan rasa penyesalan
“siapa bilang persahabatan kita rusak, kamu itu akan selalu menjadi sahabatku dan aku merasa bodoh sekali apabila membencimu hanya karena ini. Aku bukannya putus asa, tetapi aku sadar bahwa semua yang kita inginkan tidak selalu dapat kita gapai dan aku memutuskan ingin mengikuti kompetisi penulis, kan kamu pernah bilang bahwa aku berbakat menjadi penulis daripada panata rias. Siapa tau aja aku bisa menang dan menjadi penulis profesional”
“jadi, kamu ingin jadi penulis dan aku penatarias. Kok bisa tertukar yah... yang pengen jadi penulis itukan aku sedangkan kamu ingin menjadi penata rias. He..he kalau di pikir-pikir ini aneh yah”jawabnya dengan senyum
Saat itu juga, kami kembali akrab seperti dulu dan membuat kesepakaatan bahwa kami akan bersungguh-sungguh untuk menekuni bidang kami masing-masing. Hingga ketika tiba waktunya kompetisi cerpen, akupun mengikutinya dan tidak di sangka aku menjadi pemenang dan saat itu aku sangat bahagia, terlebih lagi ketika aku ditawarkan oleh sebuah perusahaan menjadi penulis novel di perusahaannya karna ia percaya dengan kemampuanku, tanpa pikir panjang aku langsung menerima penawaran itu. Akhirnya aku bisa menjadi orang yang berguna walau dengan keterbatasanku, aku sadar semua ini telah di rencanakan oleh tuhan untukku, dibalik cobaan dan kegagalan yang di berikan padaku telah tersimpan nikmat yang begitu indah. Aku yang sempat terpuruk selama tiga tahun  karna cacat, yang selalu berpikir bahwa aku hanyalah benalu dikeluargaku, kini bisa menjadi sukses dan membahagiakan orangtuaku .<a href="cerpen"></a><blockquote></blockquote><blockquote></blockquote>
















  
 KENANGAN YANG TERKENANG
 Sahabat sejati adalah teman yang selalu ada bersamamu dalam duka maupun suka tempat berbagi cerita, senyum, dan derita. Persahabatan sejati akan selalu ada dan terkenang dalam hati, tidak peduli ada waktu dan jarak yang memisahkan, ya… kata-kata itu lah yang selalu terngiang dalampikiran aryani, seorang mahasiswa kedokteran dalam memaknai sebuah kata sahabat. Setiap kali ia mendengar kata sahabat ia selalu teringat tiga sahabat masa smp nya, wiwit, Dila, dan Ana. Sahabat yang tak pernah mungkin bias ia lupakan.
Aryani, Wiwit, Ana, dan Dila  telah berteman sejak duduk di bangku sd, seiring bergulirnya waktu pertemanan mereka berubah menjadi sahabat. Keempat sahabat ini mempunyai kepribadian unik masing-masing, wiwit adalah pribadi yang sangat serius juga paling saleha di antara mereka berempat sehingga tidak jarang ia di panggil bu ustajah karna hobi menceramainya yang juga terkadang lebay, di lain sisi ada Ana yang di juluki si pengumpul informasi, di antara mereka berempat Analah yang selalu up date, setiap ada issue  baru ia pasti berusaha untuk mengetahuinya atau yang biasa di kenal dengan istilah kepo. Sedangkan Dilla adalah sosok yang cuek da juga apa adanya, semua tanggapan orang mengenainya tak ia pedulikan bahkan saran dari ketiga  sahabatnya sekali pun, Dila memang orang yang sangat tidak mempedulikan penampilan alias rembess, maka dari itu tidak heran jika ia sering di pangggil si rembes. Dan Aryani sendiri adalah sosok yang penyabar, kalem, ceria dan juga menyukai kartun.
Perbedaaan di antara mereka tidak menjadi penghalang bagi mereka justru menjadi cerita sendiri bagi persahabatan mereka, setiap mereka bersama selalu ada saja yang di bicarakan dan di ributkan mulai dari segi politik, ekonomi, social sampai masalah sepele pun bisa jadi topic pembicaraan mereka terlebih-lebih lagi Aryani dan Dila mereka sangat suka memberikan kritik-kritik , jika mereka sudah memberi kritik maka tidak ada bedanya lagi mereka dengan seorang kritikus ulung yang muncul di tv-tv. Berbeda dengan Aryani dan Dila, Wiwit dan Ana justru terlihat kompak saat ulangan, sama-sama kompak menutupijawaban masing-masing, mereka memang sahabat tapi tidak untuk nilai, saat ulangan atau ada tugas individu mereka seperti tak punya belas kasih meskipun kepada sahabat sendiri, ya… memang Wiwit dan Ana adalah rival, mereka saling bersaing untuk menjadi juara kelas  dan juara kelas pun selalu di pegang secara berganti-gantian oleh mereka berdua. Sedang kan Aryani danDila hanya bias menyaksikan dari belakang panggung persaingan pelik mereka. Tetapi ini semua tidak menjadi alasan penghambat persahabatan mereka melainkan hanya suatu hal yang membuat Aryani dan Dila ketawa geli jika mengingat ekspresi kedua sahabatnya.
Di samping perbedaan, keempat sahabat ini juga mempunyai banyak ke samaan yaitu sama-sama gak suka olahraga, gak punya bakat seni terutama nyanyi,gak suka menonjol atau jadi pusat perhatian, kecuali dalam hal-hal pelajaran. Dalam pelajaran mereka punya unggulan sendiri , misalnya saja Dila yang ungggul dalam b.inggris dan tik, Wiwit ungggul dalan ilmu social dan agama, Aryani unggul dalam ungggul dalam sains dan Ana yang terobsesi menjadi juara kelas ,tentu saja menyapu bersih  semua mata pelajaran. Mereka berempat memang bukanlah anak-anak yang popular atau anak-anak yang aktif dalam suatu kegiatan.di sekolah mereka.  tapi dalam hal pelajaran mereka gak boleh di pandang sebelah mata , mereka berempat pernah di tunjuk untuk mewakili sekolahnya dalam sebuah olimpiade sesuai bidang keahlian masing-masing walaupun pada akhirnya tidak mendapat juara , setidaknya ini membuktikan kalau mereka juga punya kemampuan.   
Selain mempunyai kesamaan minat dalam hal akademik mereka juga punya pandangan yang sama mengenai hubungan yang telah menjadi trend atau budaya anak remaja masa kini yaitu pacaran, bagi mereka hubungan itu tidak ada gunanya dan hanya dapat merusak persahabatan mereka , hal ini sering terjadi pada teman satu kelas mereka. Prinsip inilah yang menjadi salah satu alasan mereka sejak dulu sampai sekarang  hanya berempat, mereka tidak mau persahabatan mereka rusak hanya oleh  seorang sahabat baru yang tidak seprinsip dengan mereka . mereka sangat menjaga persahabatan dan mementingkan persahabatan di atas segala- galanya.
Hari-hari mereka lalui bersama dengan canda tawa dan keceriaan, tanpa di rasa detik-detik  ujian nasional pun semakin dekat, di samping sibuk menyiapkan persiapan ujian  nasional , mereka pun sibuk dengan rencana-rencana selepas lulus smp. Mereka memutuskan akan melanjutkan ke sma yang sama, semua rencana- rencan selepas sma sudah mereka susun dengan baik, tiap aklo mereka memikirkan hari kelulusan, mereka selalu tidak sabaran menunggu hari dimana mereka memakai seragam sma , berjalan bersama sebagai siswa sma dan bukanlah anak smp lagi. Mereka telah mengikuti ujian nasional dan hal yang bisa mereka lakukan hanya lah menunggu hari pengumuman kelulusan yang akan di umumkan sebulan setelah ujian nasional, selagi menunggu pengumuman kelulusan mereka mempunyai rencana masing-masing untuk berlibur kecuali Wiwit yang memilih tetap di rumah.
Selama di tempat liburan mereka tidak pernah berhubungan satu sama lain hingga  pada minggu ketiga mereka mendapat kabar buruk yang mengakibatkan mereka semua pulang, kabar buruk itu datang dari Wiwit, ia di vonis kanker oleh dokter sehingga ia harus di rawat di rumah sakit, mendengar berita itu tentu saja membuat ketiga temannya syok dan tidak percaya, Wiwit yang selama ini terlihat sehat-sehat aja gak mungkin di vonis kanker.lagipula kalau ia punya keluhan pastilah mereka menjadi salahsatu orang pertama yang mengetahui nya, begitulah pikir Aryani dan kedua sahabatnya namun berita itu benar adanya Wiwit adalah  anak yang kuat, selama ini ia menyimpan rasa sakitnya sendiri  baru lah ketika selesai ujian nasional ia memeriksakan keadaannya ke dokter. Dan akhirnya mereka pun datang menjenguk Wiwit yang telah kembali dari rumah sakit.
Ana              : Wit…. Maafin kami yah (sambil menhan air mata)
Dila, Aryani  : ia.. wit maafi kami yah.. (dengan nada penuh penyesalan)
Wiwit           : apaan sih kalian kok minta maaf (dengan nada lemah)
Aryani         : ia.. soalnya kami gak ada di saat kamu sedang sakit seperti ini (memeluk wiwit)
Ana              :Wit… itu pasti rasanya gak enak yah.
Dila             : apaan sih kamu Ana, kok nanya gitu namanya sakit gak mungkin enak lah..
Wiwit          : udah.. aku gak papa kok, datangnya kalian hari ini sudah mengurangi rasa sakitku (senyum tipis)
Ana,Dila,Aryani: cepat sembuh ya wit…
Ana              : ia sebentar lagi pengumuman loh.. kamu harus liat nilai yang mana tertinggi di antara kita (dengan nada bergurau)
Wiwit          :insyaallah, kalo allha menghendaki aku pasti ada saat pengumuman itu.
Aryani         :kamu harus janjiyah wit..
Dila             : ia Wit, kita kan punya banyak rencana nanti setelah pengumuman pokoknya kita harus rayain (wajah yakin)
Wiwit          : ia.. sahabat-sahabat ku yang bawel. aku gak lupa kok semua rencana kita . (sambil berpelukan
Percakapan keempat sahabat ini merupakan kali terakhirnya bagi mereka
Dan tak akan bisa di lupakan , setelah berapa menit Aryani dan dua sahabatnya pergi dari rumah Wiwit, saat itu juga Wiwitmenghembuskan nafas terakhirnya, mendengar kejadian ini aryani dan dua sahabatnya tentu sangat bersedih dan penuh penyesalan, tidak ada sedikit pun mereka mengira bahwa sahabatnya Wiwit pergi begitu cepat, andai saja mereka tau pasti mereka tidak akan pernah meniggalkan wiwit di saat-saat akhirnya. Walau bagaiman pun semua telah terjadi mereka kehilangan satu sahabat tercinta. Semua rencana yang mereka rencanakan hilang bersama kepergian Wiwit. Saat pengumuman kelulusan tiba pun tidak ada lagi canda tawa yang ada hanya kesedihan, namun siapa sangka perpisahan dengan Wiwit juga merupakan perpisahan antara  aryani dengan kedua sahabatnya Dila dan Ana.
          Setelah berbulan-bulan semenjak kematian wiwit  Aryani dan kedua sahabatnya  tidak pernah terlihat bersama lagi, hal ini membuat Aryani sadar bahwa selama ini Wiwit lah yang selalu membuat mereka bersama, mengajak belajar bersama, dan bermain bersama. Namun semenjak wiwit pergi tidak ada lagikebersamaan seperti dulu, Ana memutuskan untuk melanjutkan sekolah diluar kota, sedang Dila akan melanjutkan ke sekolah kejuruan. Hanya Aryani sendirilah yang melanjutkan ke sma yang dulu telah mereka rencanakan bersama. Tiga tahun lamanya di sma Aryani tidak pernah lagi bertemu dan berhubungan dengan Ana sedangkan Dila yang masih ia temui entah itu dijalan atau di sebuah pusat perbelanjaan kini terasa begitu  asing, di antara mereka seperti tidak ada lagi rasa persahbatan, tiap kali Aryani bertemu hanya senyum dari bibir Dila sajalah yang ia dapat tanpa sepatah kata pun. Kadang terbesih di hati Aryani suatu pertanyaan yang menjanggal pikirannya “apakah Dila sudah tidak mengingatku lag?, atau apakah Dila terlalu sibuk dengan banyak teman barunya yang lebih baik sehingga untuk menegur sapa saja tidak sempat ia lakukan ?” namun pertanyaan- pertanyaan itu hanya bisa ia simpan di sendiri , ya… memang Aryani sangat kecewa dengan sikap Dila dan Ana  yang masih di anggap sebagai sahabat, selama berada di sma Aryani belum bisa melupakan sahabat-sahabatnya yang ia sendiri pun ia tidak tau perasaan mereka sekarang, apakah di hati mereka masih ada ingatan tentang cerita persahabatan mereka atau kah sudah lama hilang bersama perginya wiwit.
          Aryani tidak seperti Dila yang mudah bergaul dan mendapatakan banyak teman bagi Aryani sangat sulit untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya tanpa ketiga sahabatnya, ia merasa sangat sulit mencari teman yang dapat mengerti  dan sesuai dengannya karena ia sudah terlalu biasa dengan Wiwit, Dila dan Ana, atau seperti istilah sekarang Aryani gak bisa move on dari teman-temannya. Ia selalu merindukan kenangan-kenangan bersama sahabat-sahabatnya dan bahkan menangis ketika mengingatnya, ia juga sering bertanya- Tanya”apakah persahabatan yang telah ia jalin dengan lama bersama teman-temannya itu tak ada artinya?, apakah semua hal-hal yang telah ia lakukan bersama itu tak ada artinya?, apakah persahabatan yang  sangat mereka jaga dulu  akhirnya berakhir dengan mudah seperti ini?, ataukah apakah memang tidak pernah ada kata sahabat di antara mereka?, bagaimana mungkin dengan persahabatan yang telah lama ini di lupakan saja?” ya… pertanyaan-pertanyaan itu hanyalah dapat membuatnya semakin sedih dan galau.
          Aryani pernah mencoba untuk lebih terbuka kepada teman smanya  sekarang, ia coba meyakinkan dirinya bahwa masih banyak teman lain yang dapat mengertinya dan menjadi sahabat yang dapat di percaya, dan yang harus ia lakukan hanyalah membiasakan diri dengan lingkungan  dan ternyata semua yang dilakukan itu sedikit banyak telah membantunya untuk tidak selalu melihat kebelakang. Perlahan-lahan keceriaannya pun mulai kembali, tapi itu tidak berarti bahwa ia melupakan semua kenangan bersama Wiwit,Dila, dan Ana. Baginya mereka tetap menjadi sahabat terbaik dan akan selalu begitu. Setiap detik yang ia lalui bersama mereka akan selalu menjadi kenangan yang selalu terkenang .
          Hingga saat ini Aryani telah melanjutkan sekolahnya ke sebuah perguruan tinggi  dan mengambil jurusan kedokteran, Aryani telah mengerti bahwa itulah hidup ada hitam dan putih,ada suka dan duka, ada pertemuan pastilah ada perpisahan.  Semua hal itu dapat di terima atau tidak itu tergantung  bagaimana cara seseorangmelihatnya, yang pasti Aryani kini telah mengerti bagaimana ia harus menjalani hari-hari nya, yaitu mengikuti arus waktu yang selalu bergerak maju, biarlah cerita indah persahabatan tetap menjadi kenangan yang terkenang, karena masa depan yang jauh masih menunggu untuk di tuliskan cerita-cerita indah lainnya. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

makalah PCR

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Bioteknologi diartikan sebagai penerapan prinsip ilmu dan rekayasa dalam pemanfaatan mak...