Senin, 10 April 2017

IMPLEMENTASI IMAN DAN TAQWA DALAM KEHIDUPAN MODERN



IMPLEMENTASI IMAN DAN TAQWA DALAM KEHIDUPAN MODERN
A.    Pengertian Iman
Menurut bahasa iman berarti membenarkan, sedangkan menurut syara’ berarti membenarkan denagn hati, dalam arti menerima dan tunduk kepada hal-hal yang diketahui berasal dari Nabi Muhamad. Dengan demikian Iman kepada Allah berati iman atau percaya bahwa Allah satu-satunya dzat yang mencipta, memelihara, menguasai, dan mengatur alam semesta. Iman kepada keesaan Allah juga berarti iman atau yakin bahwa hanya kepada Allah-lah manusia harus betuhan, beribadah memohon pertolongan, tunduk, patuh, dan merendahkan diri. Selain itu iman kepada keesaan Allah juga berarti mempercayai bahwa Allah-lah yang memiliki segala sifat kesempurnaan dan terlepas dari sifat tercela atau dari segala kekurangan.Iman tidak cukup disimpan didalam hati. Iman harus dilahirkan dalam bentuk perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal sholeh atau perilaku yang baik. Disamping itu, pengertian tersebut juga membawa makna bahwa iman tidak sekedar beriman kepada apa yang disebutkan di dalam “rukun iman” saja, yaitu iamn kepada Allah, iamn kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada hari akhir, dan iamn kepada qadha’ dan qadar, tetapi lebih dari itu, cakupan iman meliputi pengimanan terhadap segala hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad selain rukun iman tersebut. Misalnya, iman terhadap kewajiban sholat, zakat, puasa, haji, dan juga tentang halal haramnya sesuatu.
B.     Pengertian taqwa
Menurut imam ghozali : Taqwa di dalam Al qur’an disebut dalam tiga pengertian
Pertama                                  : takut dan malu.
Kedua                                     : taat dan beribadah.
Ketiga                                     :Membersihkan hati dari dosa, dan yang terakhir adalah taqwa                                                             yang sejati.
Demikianlah pengertian taqwa menurut imam ghozali. Secara umum, taqwa adalah perkataan yang mengungkapakn penghindaran diri dari kemurkaan Allah SWT dan Siksa-Nya. Yakni dengan melaksanakan apa yang diperintah-Nya dan menahan diri dari melakukan segala larangan-Nya. Hakikat taqwa ialah tuhan melihat kehadiranmu dimana DIA telah melarangmu. Tuhan tidak kehilangan kamu dimana DIA telah memerintahkanmu.
C.      Pemantapan Iman dan Takwa
Masa depan ditentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Generasi pelopor penyumbang dibidang pemikiran (aqliyah), dan pembaruan (inovator), perlu dibentuk di era pembangunan. Keunggulan generasi pelopor akan di ukur ditengah masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman (identifikasi) permasalahan yang dihadapi umat, dengan equalisasi mengarah kepada kaderisasi (patah tumbuh hilang berganti). Keunggulan ini di iringi dengan kemampuan penswadayaan kesempatan-kesempatan. Pentingnya menumbuhkan generasi pelopor menjadi relevansi tuntutan agama dalam menatap kedepan. 
Mantapnya pemahaman agama dan adat budaya (tamaddun) dalam perilaku seharian jadi landasan dasar kaderisasi re-generasi.Usaha kearah pemantapan metodologi pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan, pembinaan keluarga, institusi serta lingkungan mesti sejalin dan sejalan dengan pemantapan Akidah Agama pada generasi mendatang. Political action berkenaan pengamalan ajaran Agama menjadi sumber kekuatan besar menopang proses pembangunan melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek dalam pembangunan bangsa itu sendiri. 
Pemberdayaan lembaga adat, agama, perguruan tinggi, untuk meraih keberhasilan, mesti sejalan dengan kelompok umara’ yang adil (kena pada tempatnya).  Pertemuan pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, penekanan amanah kepada pemegang kendali ekonomi, menyatukan gerak masyarakat disertai do’a (harapan) sebagai perpaduan usaha, menjadi pekerjaan mendesak meniti pengembangan pembangunan (development).  Peran da’i ilaa Allah aktif menyokong mempertahankan nilai-nilai ruhaniyah sebagai modal dalam menghasilkan yang belum dimiliki. Generasi pelopor (inovator) pembangunan harus dipersiapkan supaya tidak lahir generasi pengguna (konsumptif) yang tidak produktif, yang merupakan benalu bagi bangsa dan negara.
D.    Amalan taqwa
Amalan taqwa bukan sebatas apa yang terkandung di dalam rukun islam, seperti syahadat, sholat, zakat, dan haji saja. Bukan sebatas membaca Al qur’an atau berwirid dan berzikir. Amalan taqwa juga tidak dimasjid saja. Amalan taqwa adalah apa saja amalan dan perbuatan didalam kehidupan yang dilandaskan syariat, baik itu fardhu, wajib, sunah, mubah, atau apa saja amalan dan perbuatan yang dijauhi dan ditinggalkan baik itu haram dan makruh.
Ini termasuklah segala perkara yang berlaku dalam kehidupan baik dalm kehidupan keseharian, dalam bidang ekonomi, pembangunan, pendidikan, kenegaraan, kebudayaan, manajemen, kesehatan dan sebagainya. Asalkan yang dilakukan atau ditinggalkan itu terkait dan Karen a Allah, maka itu taqwa. Sedangkan amalan yang tidak terkait dan tidak ilakukan karena Allah, tiu adalah amalan yang tidak ada nyawa, jiwa, atau rohnya dan ia tidak ada nilainya di sisi-Nya.Begitu pentingnya ketaqwaan bagi seorang muslim, sehingga derajat seorang manusia ditentukan oleh kadar ketaqwaannya kepada Allah. Mulia atau tidaknya seorang manusia bukan ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki atau jabatan yang di duduki. Tidak mustahil jika ada seseorang, jabatannya tinggi, hartanya melimpah, dipuji oleh manusia, tetapi karena tidak bertaqwa kepada Allah maka ia pun tidak memiliki derajat bahkan hina dihadapan Allah SWT. sebaliknya, seorang pemulung yang dicaci dan hina dihadapan manusia, jika bertaqwa maka ia memiliki derajat yang mulia dihadapan Allah SWT. derajatnya melebihi seorang pejabat yang dipuji ternyata korupsi. Berbicara juga dapat menjadi taqwa kalau apa yang di bicarakan itu adalah ilmu, nasihat atau perkara-perkara yang baik, dan manfaat, dan dilakukan karena Allah. Diam juga dapat menjadi taqwa kalau diam itu untuk mengelakkan dari berkata-kata yang maksiat dan sia-sia atau supaya tidak menyakiti hati orang dan dilakukan karena takut kepada Allah.

Di antara cirri-ciri orang yang bertaqwa kepada Allah itu adalah :
1.      Gemar menginfaqkan harta bendanya dijalan Allah, baik dalam waktu sempit maupun lapang.
2.      Mampu menahan diri dari sifat marah.
3.      Selalu memaafkan orang lain yang telah membuat salah kepadanya ( tidak pendendam).
4.      Tatkala terjerumus pada perbuatan keji dan dosa atau mendzalimi diri sendiri,ia segera ingat Allah, lalu bertaubat, memohon ampun kepada-Nya atas dosa yang telah dilakukan.
5.      Tidak meneruskan perbuatan keji itu lagi, dengan kesadaran dan sepengetahuan dirinya.
6.      Betapa pentingnya nilai TAQWA. Hingga merupakan bekal yang terbaik dalam menjalani kehidupan didunia dan betapa tinggi derajat TAQWA, hingga manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara mereka. Dan banyak sekali buah yang akan dipetik, hasil yang akan diperoleh dan nikamt yang akan diraih oleh orang yang bertaqwa di antaranya adalah :
a)      Ia akan memperoleh Al-Furqon yaitu kemampu n untuk membedakan antara yang haq dan yang batil, halal dan haram, antara yang sunnah dengan bid’ah. Serta kesalahan-kesalahannya dihapus dan dosa-dosanya di ampuni.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. ( QS. Al-Anfal: 29 )
b)       Ia akan memperoleh jalan keluar dari segala macam problema yang dihadapinya, amalan-amalan baiknya diterima oleh Allah hinga menadi berat timbangannyadi hari akhir kelak, mudah penghisabannya dan ia menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kanan.
c)       Amalan-amalan baiknya diterima oleh Allah hingga menjadi berat timbangannya di hari kiamat kelak, mudah penghisabannya dan ia menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kanan.
d)      Serta Allah memasukkan ke dalam Surga, kekal di dalamnya serta hidup dalam Keridhoan-Nya.
e)       Ciri-ciri masyarakat Modern
Masyarakat modern adalah komunitas orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan-aturan tertentu yang bersifat modern serta penggunaan teknologi
Ciri-ciri pokok masyarakat modern menurut Deliar Noor:
Bersifat rasional yakni lebih mengutamakan pendapat yang berdasarkan akal.
Ø  Berfikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat.
Ø  Menghargai waktu, yakni dengan memafaatkan waktu sebaik-baiknya dan seefektif mungkin sehingga tidak ada waktu yang mubadzir tanpa makna.
Ø   Bersifat terbuka yakni mau menerima kritikan, saran, masukan untuk perbaikan yang dating dari manapun.
Ø   Berfikir obyektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya bagi masyarakat.
Tantangan, problema dan resiko kehidupan modern 
Realitas kemampuan manusia:
a)      Manusia tidak hanya mengenal nama-nama benda yang ada
b)      Manusia dapat mengembangkan dan menciptakan nama-nama baru pada benda yang diciptakannya.
c)       Kemampuan membuat benda-benda disebut kebudayaan [ fisik – non fisik ]
d)      Manusia mampu mengembangkan kebudayaan akibat sains dan teknologi.
Berbagai Persoalan Manusia Diera Modern
1.      Problem utama modernitas : [dampak negative penemuan teknologi]
ü  Terjadinya pencemaran lingkungan
ü  Rusaknya habitat hewan – tumbuhan 
ü   Munculnya beragam penyakit
2.      Dalam Bidang Ekonomi : [Persoalan kapitalisme-Materalisme]
ü  Melahirkan manusia yang konsumtif-materialistik dan eksplotatif
ü  Manusia hanya memandang dirinya sebagai makhluk economicus [manusia yang mementingkan dirinya sendiri
ü  Manusia melupakan dirinya sebagai makhluk homo religious yang syarat dengan kaidah moral.
ü  Prinsip ekonomi kapitalis telah melahirkan manusia yang serakah-egois.
Salah satu contoh kasus di Indonesia :

“ Demi kepentingan lahan pertanian-perumahan, tidak malu menggunduli hutan,membakarnya. Import mobil dan motor secara besar-besaran tidak pernah memperhitungkan dampak polusi bagi kesehatan. Pelaku ekonomi kecil, adalah mengunakan lahan trotoar sebagai tempat berjualan dengan tidak mempertimbangkan keselamatan pejalan kaki.
3.      Dalam bidang moral : (Paham liberalism-kebebasan berekspresi)
ü  Melalui teknologi informasi di ekspose secara besar-besaran meski menabrak batas-batas agama
ü  Globalisasi berwajah westernisasi (penanaman nilai-nilai barat dengan melepas nilai-nilai moral agama)
ü  Westernisasi mempunyai kemampuan melindas budaya local, buktinya : Bangsa Indonesia dalam banyak hal selalu berkiblat pada dunia barat dan menjadikannya sebagai symbol kemajuan.

4.      Dalam persoalan sekularisme : (tarik menarik antara dunia-agama)
ü  Urusan dunia dipisahkan dari agama
ü  Munculnya split personality (manusia berkpribadian ganda ), contoh : pada saat yang sama ia bisa menjadi seorang korupto, meskipun ia taat beribadah.
ü  Peran agama akan semakin kehilangan ruhnya.
5.      Dalam Persoalan Keilmua: (munculnya pemikiran posivitesme)
ü  Sesuatu dikatakan benar jika; menggunakan tolok ukur kebenaran rasional, empiris, eksperimental dan terukur secara metodologis.





1.      Problematika, Tantangan, dan Resiko dalam Kehidupan Modern

Di antara problematika dalam kehidupan modern adalah masalah sosial-budaya yang sudah established, sehingga sulit sekali memperbaikinya.  Berbicara tentang masalah sosial budaya berarti berbicara tentang masalah alam pikiran dan realitas hidup masyarakat. Alam pikiran bangsa Indonesia adalah majemuk (pluralistik), sehingga pergaulan hidupnya selalu dipenuhi oleh konflik baik sesama orang Islam maupun orang Islam dengan non-Islam. Pada millenium ketiga, bangsa Indonesia dimungkinkan sebagai masyarakat  yang antara satu dengan lainnya saling bermusuhan. Hal itu digambarkan oleh Ali Imran: 103, sebagai kehidupan yang terlibat dalam wujud saling bermusuhan (idz kuntum a’daa’an), yaitu suatu wujud kehidupan yang berada pada ancaman kehancuran.
Adopsi modernisme (westernisme), kendatipun tidak secara total, yang dilakukan bangsa Indonesia selama ini, telah menempatkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang semi naturalis. Di sisi lain, diadopsinya idealisme juga telah menjadikan bangsa Indonesia menjadi pengkhayal. Adanya tarik menarik antara kekuatan idealisme dan naturalisme menjadikan bangsa Indonesia bersikap tidak menentu.  Secara ekonomi bangsa Indonesia semakin tambah terpuruk. Hal ini karena diadopsinya sistem kapitalisme dan melahirkan korupsi besar-besaran. Sedangkan di bidang politik, selalu muncul konflik di antara partai dan semakin jauhnya anggota parlemen dengan nilai-nilai qur’ani, karena pragmatis dan oportunis.
Di bidang sosial banyak muncul masalah. Lebih memprihatinkan lagi adalah tindakan penyalahgunaan NARKOBA oleh anak-anak sekolah, mahasiswa, serta masyarakat. Persoalan itu muncul, karena wawasan ilmunya salah, sedang ilmu merupakan roh yang menggerakkan dan mewarnai budaya. Hal itu menjadi tantangan yang amat berat dan dapat menimbulkan tekanan kejiwaan, karena kalau masuk dalam kehidupan seperti itu, maka akan melahirkan risiko yang besar. Untuk membebaskan bangsa Indonesia dari berbagai persoalan di atas, perlu diadakan revolusi pandangan. Dalam kaitan ini, iman dan taqwa yang dapat berperan menyelesaikan problema dan tantangan kehidupan modern tersebut.


1.      Peran  Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan Modern

Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.

a.      Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatan pun yang dapat mencegahnya. Sebaliknya, jika Allah hendak menimpakan bencana, maka tidak ada satu kekuatan pun yang sanggup menahan dan mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda Keramat, mengikis kepercayaan pada khurafat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah firman Allah surat al-Fatihah ayat 1-7.

b.      Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak di antara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah: Di mana saja kamu berada, kematian akan datang mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (an-Nisa’ 4: 78).

c.       Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, karena kepentingan penghidupannya. Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip, menjual kehormatan, bermuka dua, menjilat, dan memperbudak diri, karena kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah: Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata. (lauh mahfud). (Hud, 11: 6).

d.      Iman memberikan ketentraman jiwa
Acapkali manusia dilanda resah dan duka cita, serta digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tentram (mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan firman Allah: …(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. (ar-Ra’d, 13: 28).
Seorang yang beriman tidak pernah ragu pada keyakinannya terhadap Qada dan Qadar. Dia mengetahui dan meyakini seyakin-yakinnya bahwa Qada dan Qadar Allah telah tertulis di dalam kitab. Qadar adalah apa yang dapat dijangkau oleh kemauan dan iradah manusia. Allah telah menciptakan manusia serta dilengkapi dengan nikmat berupa akal dan perasaan. Melalui akal dan iradahnya, manusia dapat berbuat berbagai hal dalam batas iradah yang dianugerahkan Allah kepadanya. Di luar batas kemampuan iradah manusia, Qada dan Qadar Allahlah yang berlaku. Orang-orang yang selalu hidup dalam lingkungan keimanan, hatinya selalu tenang dan pribadinya selalu terang dan mantap. Allah memberi ketenangan dalam jiwanya dan ia selalu mendapat pertolongan dan kemenangan. Inilah nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya yang mukmin dan anugerah Allah berupa nur Ilahi ini diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya. Dia yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’anya, meneguhkan hatinya, serta memberikan kemenangan. (ar-Ra’ad 28, al-Fath 4).

e.       Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu melakukan kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah :  Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (an-Nahl, 16: 97).

f.       Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa pamrih, kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa  yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa berpedoman pada firman Allah:  Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (al-An’aam, 6: 162)

g.      Iman memberikan keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:  Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (al-Baqarah, 2: 5).

h.      Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan kegiatan manusia, baik yang dipengaruhi oleh kemauan seperti makan, minum, berdiri, melihat dan berfikir, maupun yang tidak dipengaruhi kemauan seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses bio-kimia ini bekerja di bawah perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofise, yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zygot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.
Orang-orang yang dikontrol oleh iman tidak akan mudah terkena penyakit modern, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Sebaliknya jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan azas moral dan akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat kepada Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan dikuasai oleh kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin dan persenyawaan kimia lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

makalah PCR

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Bioteknologi diartikan sebagai penerapan prinsip ilmu dan rekayasa dalam pemanfaatan mak...